Tarbiyah Dalam Al Qura’an
Dalam Alquran, kata tarbiyah sebagai sebuah definisi yang sudah mapan tidak dapat dijumpai, namun demikian kata tarbiyah dengan merujuk pada berbagai bentuk derivasinya dapat ditemukan dalam ayat-ayat yang tersebar dan terulang sebanyak 952 kali.
Lafadz tarbiyah biasa digunakan sebagai istilah pendidikkan dalam islam. Tarbiyah sendiri merupakan masdar berwazan تفعيل yaitu dari fiil madly mazid rabba-yurabbi-tarbiyan (ربي-يربي- تربي ) yang bermakna pendidikan, pengasuhan, dan pemeliharaan. Tarbiyah diambil dari fiil madly mujarod raba ربا yang bermakna tambah dan tumbuh.
Derivasi Tarbiyah dalam Al Qur’an terbagi menjadi tiga bentuk; pertama, bentuk isim fail ( rabbbani ). Bentuk ini terulang sebanyak 2 kali yang semuanya berbentuk jamak ( plural ) ( rabbaniyyyin \ ribbiyyun ). Sebagaimana terdapat dalam surah Al Imran ayat 79.
ما كان لبشر ان يوتيه الله الكتب واحكم والنبوة ثمةيقوول للناس كونوا عبادالي من دون الله وكن كونوا ربانين بما كنتم تعلمون اكتب وبماكنتم تدرسون
Artinya ; “ tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian,kemudian dia berkata kepada manusia, “ jadilah kamu penyambahku, bukan penyembah Allah,” tetapu ( dia berkata ),” jadilah kamu penyembah-penyembah Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!,” ( OS. Al Imran ; 79 )
Kata rabbani dalam ayat tersebut dinisbatkan kepada kata robba yang mendidik manusia dengan ilmu dan pengarahan pada masa kecil. Menurut Ibnu Abbas, kata robbayani berasal dari kata robba yang mendapatkan imbuhan alif dan nun yang menunjukkan ma’na balaghoh. Sebagian ulama berpendapat bahwa kata rabbanii mempunyai tokoh arti ilmuan ( arbabul ilmi ) yang mendidik dan memperbaiki kondisi sosialnya, dan ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut bermakna orang yang ahli dan mengamalkan sesuai yang ia ketahui, bahkan dengan demikian kata tersebut identik dengan al alim al hakim, yang mempunyai arti orang yang sempurna iman dan ketaqwaannya.
Kedua, bentuk masdar rabba yang terulang dalam Al Qur’an sebanyak 947 kali, empat kali berbentuk jama’ “Arbabun”, satu kali berbentuk tunggal, dan selebihnya diidiomatikkan dengan isim (kata benda) sebanyak 141 kali yang mayoritas dikontekskan dengan alam, selebihnya dikontekskan dengan masalah Nabi, manusia, sifat Allah, dan ka’bah. Salah satunya terdapat dalam surat Al Fatihah ayat 2:
الحمدالله رب العلمين
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam”. ( QS. Al Fatihah : 2 )
Surat Asy-Syu’ara Ayat 16
فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah olehmu: “Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam” (QS. Asy Syuara: 16 )
Ketiga, berbentuk kata kerja (fi’il) rabbi (ربا), yaitu terdapat dalam surat Al Isra ayat 24;
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”.
Tafsir Ayat-Ayat Tarbiyah
Pengertian Tarbiyah Dalam Al Qur’an Tafsir Ayat Ke 2 Surat Al Fatihah ( QS. Al Fatihah : 2 )
الحمدالله رب العلمين
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” ( QS. Al Fatihah : 2 )
Dalam surat Al Fatihah ayat 2 tersebut dapat kita jumpai bahwa Allah adalah Tuhan (rabb) yang selalu menjaga dan melindungi ciptaan-Nya, hal ini karena Allah adalah pemiliki sekaligus yang mengatur dan mengurus tata kehidupan di dunia dan seisinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rabb dalam konteks tarbiyah adalah sebagai pelaku perbaikan, sehingga tujuan dari pendidikan menurut surat Al Fatihah ayat 2 ini adalah membangun sifat ketuhanan dan mengelaborasinya dalam kehidupan orang yang sudah terdidik (mutarabbi).
Dalam konteks tauhid, ayat inilah yang dijadikan rujukan dalam pendefinisian tauhid rububiyah yang menyatakan bahwa hanya Allah yang dapat menjaga alam dan memelihara alam yang diciptakan untuk manusia sebagai lahan tarbiyah. Sedangkan dalam kontek penafsiran, terdapat perbedaan penafsiran meskipun tidak signifikan sebagaimana as-Sa’adi dalam tafsirnya mengatakan:
“ merupakan pujian terhadap Allah dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan perbuatanNya yang berkisar antara keutamaan dan keadilan. Maka bagi-Nyalah pujian yang sempurna dari berbagai aspek”.
Dari uraian as-Sa’adi ini dapat disimpulkan bahwa tarbiyah adalah upaya manusia untuk menciptakan sifat-sifat yang dimiliki Allah dalam tugasnya sebagai seorang yang berpendidikan, di antara sifat itu adalah tidak pilih kasih dan selalu adil. Dari ayat ini ada beberapa konsekuekensi penerapan terahadap ayat ini seperti bahwa seorang guru harus memiliki sifat adil dalam menjalankkan kewajibannya sebagai seorang guru semisal dalam memberikan nilai, ganjaran, hukuman dan lain sebagainya.
Hubungan tarbiyah dengan kata rabb sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. Al Fatihah : 2 (al’amdu lil Allahi rabb al-alamin) mempunyai kandungan makna yang erat. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi (pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah pendidik yang Maha Agung bagi seluruh alam semesta.
Secara filosofis ayat 2 dari surat Al Fatihah mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai “pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Dalam konteks yang luas, pengertian pendidikan Islam yang dikandung dalam term tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu: (1) memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh). (2) mengembangkan selutuh potensi menuju kesempurnaan. (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan. (4) melaksanakan pendidikan secara bertahap.
Imam Mustafa al-Maragi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Rabb adalah Tuan, pengurus yang menguasai orang yang diurusnya dan yang mengatur semua kebutuhannya, sebagaimana dalam tafsirnya:
(رب) هو السيد المربّى الذي يسوس من يربّيه ويدبّر شئونه.
Rabb adalah Tuan, pengurus yang menguasai orang yang diurusnya dan yang mengatur semua kebutuhannya.
Menurut Ibnu Ka’ir dalam menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
{ رَبِّ الْعَالَمِينَ } والرب هو: المالك المتصرف، ويطلق في اللغة على السيد، وعلى المتصرف للإصلاح، وكل ذلك صحيح في حق الله تعالى.[ولا يستعمل الرب لغير الله، بل بالإضافة تقول: رب الدار رب كذا، وأما الرب فلا يقال إلا لله عز وجل، وقد قيل: إنه الاسم الأعظم]. والعالمين: جمع عالم، [وهو كل موجود سوى الله عز وجل] ، والعالم جمع لا واحد له من لفظه، والعوالم أصناف المخلوقات [في السماوات والأرض] في البر والبحر، وكل قرن منها وجيل يسمى عالمًا أيضًا.(إبن كثير : ۱ : ۱٣۱)
Rabb: raja yang menguasai, secara bahasa lafa’rabb mengandung makna: tuan, seorang penguasa wajib mengishlahkan, dan semua makna tersebut adalah benar merupakan hak Allah swt. Lafa’ rabb tidak digunakan untuk selain Allah swt, kecuali jika dii’afatkan, seperti: rabb ad-dar,.
Sejalan dengan pendapat di atas, Al-Qasimi menuturkan:
((رَبِّ العَالَمينَ)) الرب يطلق على السيد المطاع و على المصلح وعلى المالك. – تقول : ربّه يَرُبٌّه فهو ربّ كما تقول: نمّ عليه ينمّ فهو نمّ- فهو صفة مشبهة, ويجوز أن يكون مصدراًبمعنى التربية وهى:تبليغ الشىء إلى كما له شيئاً فشيئاً. وصف به الفاعل مبالغة كما وصف بالعدل. والرب – باللام – لا يقال إلا لله عزّ وجلّ. وهو فى غيره على التقييد بالإضافة – كربّ الدار –. و (( العالمين )) جمع عالم وهو : الخلق كلّه وكل صنف منه. وإيثار صيغة الجمع لبيان شمول ربوبيته تعالى الجميع الأجناس. والتعربف لاستغراق أفراد كل منها بأسرها
رَبِّ العَالَمينَ , Rabb berarti tuan yang ditaati, yang membereskan dan raja. Berasal dari kata ربّ- يربّ- ربّ yang semakna dengan نمّ- ينمّ- نمّ (tumbuh), lafadz ini merupakan sifat Musabbahah, mashdarnya bisa juga semakna dengan lafadz التربية, yang berarti: menyampaikan sesuatu sampai sempurna sesuatu, pelaku penyampainya disifati dengan sifat seperti adil. Lafadz Ar-rabb hanya untuk Allah semata, adapun jika digunakan untuk makhluk maka harus memakai idafat seperti: rabb ad-daar. Al-‘aalamiin merupakan jama dari kata ‘aalam, yaitu semua makhluk dengan berbagai macamnya, fungsi dari bentuk jama (الْعَالَمِيْنَ) untuk menjelaskan cakupan ketuhanan Allah SWT. Terhadap berbagai jenis makhluk. Definisi lil-istigrak adalah menyatukan semua bagian dengan yang lainnya.
Dengan demikian istilah tarbiyah dengan melacak maknanya dari kata rabb, maka ditemukan berbagai konotasi makna yang diketengahkan oleh para pakar bahasa sebagai berikut:
Louis Ma’luf, mengartikan rabb dengan tuan, pemilik, memperbaiki, perawatan, tambah, mengumpulkan, dan memperindah.
Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-An’bari al-Qurthubi memberikan arti rabb dengan pemilik, tuan, Yang Maha Memperbaiki, Yang Maha Pengatur, Yang Maha Menambah, dan Yang Maha Menunaikan.
Imam Fakhruddin ar-Razi berpendapat bahwa rabb merupakan kata yang seakar dengan tarbiyah yang mempunyai makna at-tanmiyah (pertumbuhan dan perkembangan).
Al-Attas memberikan makna tarbiyah, rabban dan rabba, adalah: Memberi makan, memelihara, dan mengasuh.
Menurut Al-Maragi tarbiyah Allah terhadap manusia terdapat dua jenis; (1) tarbiyah khalqiyyah, yang berupa pertumbuhan anggota badan, hingga mencapai kematangan, juga berupa bertambah kuat psikis dan akal. (2) tarbiyah diniyyah tahzibiyyah, berupa sesuatu yang diilhamkan kepada beberapa individu, untuk menyampaikan kepada setiap manusia sesuatu yang dapat menyempurnakan akal pikiran dan membersihkan diri-diri mereka. Manusia tidak bisa mensyariatkan suatu beribadah, tidak pula menghalalkan sesuatu dan mengharamkan yang lainnya kecuali atas izin Allah swt.
Sependapat dengan ungkapan Al-Maragi di atas, dengan istilah lain AsSa’adi membagi tarbiyah Allah kepada makhlukNya menjadi dua macam yaitu tarbiyah ‘amah/umum dan tarbiyah kha’’ah/khusus. Tarbiyah umum yakni berupa penciptaan makhluk, memberi rizki, memberi hidayah untuk kemaslahatan mereka, yang hidayah itu di dalamnya terdapat kekekalan di dunia.
Sedangkan tarbiyah khusus adalah tarbiyah Allah yang diberikan kepada para pemimpin mereka dengan cara memelihara keimanan mereka, memberi petunjuk kepada mereka, menyempurnakan mereka dengan segala sifat dan sikap yang baik serta menjaga mereka dari perbuatan-perbuatan yang kurang baik yang pada hakikatnya memberikan keberhasilan dan menjaga dari setiap kejahatan. Inilah makna rahasia dibalik banyaknya seruan para nabi dengan menggunakan lafadz rabb, karena sungguh setiap permintaan mereka berada di bawah pemeliharaan Allah.136
Menurut Al-Hijazi (Rosyidin, 2003: 23) rabb adalah raja dan tuan, pada kata tersebut mengandung makna ketuhanan, pendidikan, dan bimbingan atau bantuan. Kata al-‘âlamîn jamak dari ‘alam, artinya alam itu banyak macamnya, selain alam Allah, ada juga alam manusia, binatang dan tumbuhan.
Kata rabb dalam surat al-Fatihah ayat 2 semakna juga dengan kata rabb dalam surat ash-Shâffat: 180
“Mahasuci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan”.
Menurut Al-Hijazi, kata rabb mengandung makna bahwa rububiyyah Allah mengarahkan pendidikan supaya bersifat sejuk, penuh kasih sayang, perhatian, inspiratif dan menyenangkan atau tidak membosankan. (Rosyidin, 2003: 24)
Al-Maraghi menjelaskan bahwa konsep pendidikan yang terkandung dalam kata rabb pada dua ayat tersebut adalah bahwa cakupan pendidikan itu meliputi fisik, perasaan, akal (intelektual), bakat (potensi) dan jiwa, sehingga mencapai kesempurnaan kemanusiaannya menurut pandangan Allah SWT. kemudian dia menjelaskan bahwa tujuan pendidikan itu adalah untuk memberikan kesenangan dan kemuliaan antara guru dan murid tanpa ada batas. (Rosyidin, 2003:25)
Sedangkan Ar-Raghib (Zakaria, 2008: 110) mendefinisikan rabb sebagai berikut;
إنشاء الشيئ حالا فحالا إلى حدّ التّمام
Menjadikan sesuatu setahap demi setahap, sampai batas yang sempurna.
Pengertian di atas merupakan interpretasi dari kata ar-rabb dalam surah Al Fatihah, yang merupakan nama dari nama-nama Allah swt.
Dengan demikian dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, nilai tarbawi yang terkandung dalam ayat ini, yaitu:
a. Allah SWT. Dialah maha guru, yang pertamakali mengajarkan ilmu pada manusia pertama, yaitu Adam as., maka segala ungkapan puji dan syukur hanya untuk Allah yang maha suci, atas segala sifat-sifat-Nya yang agung.
b. Seorang pelajar, murid ataupun peserta didik harus berterimakasih kepada guru atas budi baiknya mendidik kita. Mendidik disini dalam artian tarbiyah, bukan sekedar mendidik tapi juga membimbing, mengawasi, menjaga dan mengajarkan.
c. Proses tarbiyah bukan hanya sekedar mengajarkan saja, tapi juga membimbing, menuntun dan mendidik sampai peserta didik memahami dan mempraktekan ilmunya.
Pengertian Tarbiyah Dalam Al Qur’an Tafsir Ayat Ke 24 Surat Al Isra ( QS. Al Isra : 24 )
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّي ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya: “ dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Wahbah Al-Zuhaili mengomentari lafadz وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ bahwa lafadz tersebut merupakan Isti’arah Makaniyah, yakni menyerupakan الذُّلِّ(rendah) dengan طائر(burung), kemudian lafadz طائر tidak dicantumkan, digantikan dengan hal yang khusus dimiliki طائر yaitu جَنَاحَ. Maksudnya yaitu rasa kasih sayang dan merendah diri (tawadu’) dihadapan kedua orang tua seperti merendahnya rakyat kepada pemimpin atau pelayan kepada majikanya. وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا maksudnya berdoa mintalah kasih sayang dari Allah untuk kedua orang tua saat mereka sudah tua ataupun sudah meninggal. Imam Qofal berkata “ayat ini bukan hanya mengajarkan untuk berbakti dalam perkataan saja akan tetapi mengajarkan untuk berbakti dalam hal tindakan”, makna rahmat dalam ayat ini mencangkup semua kebaikan dalam dunia dan akhirat, كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا maksudnya berbuatlah baik kepada mereka seperti mereka berbuat baik kepada kita dalam mendidik kita. Mendidik disini diartikan pertumbuhan, lafadz ini dituturkan secara khusus untuk mengingatkan kasih sayang orang tua, jerih payah orang tua dalam mendidik. Agar anak mampu menambah kasih sayang dan kelembutan kepada kedua orang tua.
Sedangkan Nashirudin menafsiri ayat كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا dengan makna kasihilah mereka seperti mereka mengasihiku, pendidikan yang mereka berikan dan pengasuhan mereka.
Al-Thobari menafsiri ayat ini dengan makna merendahlah kalian kepada orang tua, jangan menyusahkan dan doakanlah mereka kepada Allah untuk memberi kasih sayang, dan memberi kebaikan kepada mereka dengan ampunan dan kasih sayang, seperti kebaikan dan kasih sayang mereka kepada kita ketika masih kecil, hingga kini kita bias hidup sendiri dan tidak membutuhkan mereka. Ayat ini menuntun agar anak mendoakan orang tuanya. Doa kepada ibu bapak dalam ayat ini menggunakan kalimat كَماَ رَبـَّياَنِى صَغِيْراً yang dipahami oleh sebagian ulama dalam arti disebabkan mereka telah mendidikku waktu kecil, bukan sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil. Bila kalimat itu diartikan dengan sebagaimana, maka rahmat Allah yang dimohonkan mempunyai kualitas dan kuantitas yang sama dengan apa yang telah diberikan orang tua kepada sang anak. Namun, apabila ia diartikan disebabkan, maka limpahan rahmat yang dimohonkan itu diserahkan sepenuhnya kepada kemurahan Allah swt. dan ini dapat jauh lebih melimpah dibanding apa yang telah mereka limpahkan kepada anak. Karenanya, sangat wajar dan terpuji jika seorang anak berdoa agar keduanya mendapatkan yang lebih banyak dibanding yang telah ia peroleh sewaktu kecil. Hal ini tentu berdasar terhadap perintah ihsan yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya.
Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi (1418 H, 8463: 14) menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
{وَاخْفِضْ} : الْخَفْضُ ضِدُّ الرَّفْعِ.
{وَاخْفِضْ} al-khafdlu (merendahkan) merupakan kebalikan dari ar-raf’u (meninggikan)
{جَنَاحَ الذُّلِ} : الطَّائِرُ مَعْرُوْفٌ أَنَّهُ يَرْفَعُ جَنَاحَهُ وَيُرَفْرِفُ بِهِ، إِنْ أَرَادَ أَنْ يُطِيْرَ، وَيَخْفَضُهُ إِنْ أَرَادَ أَنْ يَحْنُوَ عَلَى صِغَارِهِ، وَيَحْتَضِنُهُمْ وَيُغْذِيْهِمْ.
{جَنَاحَ الذُّلِ}: diketahui bahwa seekor burung akan mengangkat sayap dan mengepak-ngepakannya ketika hendak terbang, dan merendahkannya ketika hendak mengasihi anak burung, lalu mendekap dan melindunginya.
وَهٰذِهِ صُوْرَةٌ مُحَسَّةٌ لَنَا، يَدْعُوْنَا الْحَقَّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالٰى أَنْ نَقْتَدِيْ بِهَا، وَأَنْ نُعَامِلَ الْوَالِدَيْنِ هٰذِهِ الْمُعَامَلَةِ، فَنَحْنُوْ عَلَيْهِمْ، وِنَخْفَضُ لَهُمُ الْجَنَاحَ، كِنَايَةً عَنِ الطَّاعَةِ وَالْحَنَانِ وَالتَّوَاضَعِ لَهُمَا، وَإِيَّاكَ أَنْ تَكُوْنَ كَالطَّائِرِ الَّذِيْ يَرْفَعُ جَنَاحِيْهِ لِيَطِيْرَ بِهِمَا مُتَعَالِياً عَلَى غَيْرِهِ.
Ini merupakan gambaran kasih sayang bagi kita, Allah SWT. Menyeru kita melakukan kebenaran yaitu: mengikuti gambaran tersebut, melakukan hal tersebut terhadap kedua orang tua, menyayangi mereka dan merendahkan diri dengan penuh kasih sayang. Sebagai bentuk kiasan dari ketaatan, rasa sayang dan tawadu’ terhadap mereka berdua. Hendaklah kamu menjadi seperti seekor burung yang mengepakkan sayapnya untuk terbang tinggi bersama mereka
Sementara itu, Al-Qasimi dalam menafsirkan ayat di atas menyebutkan sebagai berikut:
معنى قوله تعالى و (واخفض لهما جناح الذلّ) تَذَلَّلْ لهما و تواضع. و فيه استعارة مكنية و تحييلية.
Makna firman Allah swt: واخفض لهما جناح الذلّ (dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang), yakni merendahkan diri dan tawadlu terhadap keduanya, dalam ayat ini terdapat istiarah makniyyah dan tahliliyyah.
Kata الذلّ menyerupai bagian-bagiannya dengan penyerupaan yang samar, maka tetaplah dosa yang terbayang-bayang, dan merendahkan secara terdidik. خفضه sesuatu yang dikerjakan ketika menghimpun anak burung untuk dipelihara, lafadz ini merupakan isti’arah tashrihiyyah.
(و قل ربّ ارحمهما كما ربّيانى صغيرا) أى رب! تعطف عليهما برحمتك و مغفرتك, كما تعطفا علىّ فى صغرى, فرحمان و ربيانى صغيرا حتى استقلت بنفسى, واستغنيت عنهما. و قل ربّ ارحمهما كما ربّيانى صغيرا
yakni ya rabb, kasihanilah mereka berdua dengan rahmat dan magfirahmu. Sebagaimana mereka mengasihaniku ketika kecil. Mereka menyayangi dan mengurus aku ketika kecil, sampai aku mandiri dan berkecukupan karena mereka
Ibnu Katsir (1986, 3: 37-38) menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut,
{وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ} أَيْ: تَوَاضَعَ لَهُمَا بِفِعْلِكَ {وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا}
أَيْ: فِي كبرهما وعند وفاتهما {كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا} وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَة
(dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan), Maksudnya bertawadhulah kamu kepada keduanya melalui tindakanmu. (dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".) Yakni, pada usia tuanya dan pada saat wafatnya. (sebagaimana mereka mengurusku ketika kecil).
As-Suyuti dan Al-Mahalli menafsirkan ayat ini sebagai berikut: (Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua) artinya berlaku sopanlah kamu terhadap keduanya (dengan penuh kesayangan) dengan sikap lemah lembutmu kepada keduanya (dan ucapkanlah, "Wahai Rabbku! Kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana) keduanya mengasihaniku sewaktu (mereka berdua mendidik aku waktu kecil). (Hidayat, 2010: 568)
Ayat ini mengandung perintah untuk bersikap rendah hati dan sopan terhadap kedua orang tua. Hal itu dapat dilihat ketika Allah swt melanjutkan ayat tersebut dengan melarang seorang anak untuk berkata “ah” kepada orang tuanya yang nabi Muhammad mengatakan itu adalah salah satu doa terbesar. Adapun perintah untuk senantiasa mendo’akan mereka kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun keadaannya merupakan bentuk balasan sebagai rasa terima kasih anak karena telah dididik, dipelihara, dibimbing sejak dari kecil hingga mencapai usia baligh dan mandiri.
Sedangkan Al-Khawarijmi menjelaskan bahwa anak harus mengasihi kepada orang tuanya dan berdo’a agar Allah memberikan rahmat yang kekal karena mereka telah mendidiknya sejak kecil tanpa batas. (Rosyidin, 2003:35)
Dalam konteks demikian, perbuatan inilah yang disebut dengan birr al walidaini (berbuat baik kepada kedua orangtua). Ayat di atas juga diperkuat dengan banyak matan hadis yang membahas hal ini. Diantaranya hadis yang diriwayatkan melaui jalur Anas dan juga yang lainnya, bahwasanya Rasullullah saw. pernah menaiki mimbar kemudian berucap:
(امين امين امين) قيل : يا رسول الله علام امنت؟ قال : ((أتلني جبريل فقال : يا محمد رغم أنف رجلذكرت عنده فلم يصل عليك , قل : امين, فقلت: أمين, ثم قال رغم أنف رجل دخل عليه شهر رمضان ثم خرج فلم يغفر له, قلْ: أمين, فقلت امين , ثم قال: رغم انف رجل أدرك والديه او احدهما فلم يدخلاه الجنة, قلْ: امين, فقلت: أمين))
“Amin. Amin. Amin”. Lalu ditanyakan: ‘Ya Rasulullah , apa yang engkau amin-kan tadi? Beliau menjawab: ‘aku telah didatangi Jibril, lalu ia berkata: ‘sungguh hina orang yang (namamu disebut di sisisnya), namun ia tidak bershalawat kepadamu. Maka ucapkanlah amin.’ Maka aku mengucapkan amin. Kemudian ia berkata lagi: sungguh hina orang yang masuk bulan Ramadhan, lalu ia keluar darinya dengan tidak mendapat ampunan. Maka ucapkanlah amin.’ Maka kuucapkan amin. Selanjutnya Jibril berkata: ‘Sungguh hina orang yang mendapatkan kedua atau salah satu orang tuanya (masih hidup), namun kesempatan bakti kepada keduanya tidak memasukkannya ke surga. Maka ucapkanlah amin.” (Ibnu Katsir, 1986: 3:37-38
Menurut Ath Tabari, kata rabbayânî memiliki makna yang sama dengan kata nammayânî artinya menumbuhkembangkan. Dengan kata lain setiap orang tua senantiasa mentarbiyah anaknya dengan bentuk mendidik kasih sayang dengan memberikan air susu di waktu kecil serta menumbuhkembangkan fisik, mental serta potensi anak dengan penuh kasih sayang hingga anak mencapai usia dewasa hingga bisa mandiri dan mencukupi. Ayat tersebut juga berarti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, mempertumbuhkan, memproduksi, dan menjinakkan.
Menurut Musthafa Al-Ghalayani, At-Tarbiyah adalah penanaman etika yang mulia pada anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasihat, sehingga ia memiliki potensi dan kompetensi jiwa yang mantap, yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak, baik cinta akan kreasi, dan berguna bagi tanah airnya
Sementara, Al-Maraghi menjelaskan bahwa rabbayânî berarti, bahwa dalam mendidik anaknya, orang tua harus senantiasa penuh kasih sayang yang sempurna, telaten dan bertanggung jawab. Hal ini diperkuat oleh Al-Hijazi, bahwa kedua orangtua itu telah mendidik anak diwaktu kecil. (Rosyidin, 2003:36)
Dilihat dari konteksnya, dalam kata rabbayânî terdapat objek “nî” (aku) dan dihubungkan dengan kata shagîrâ (waktu kecil), dengan demikian tarbiyat ditekankan pada pengembangkan indiviidu sejak masa kecil.(Rosyidin, 2003:36)
Fakhruddin ar-Razi berpendapat bahwa term rabbayani tidak hanya merupakan pengajaran yang bersifat verbal (domain kognitif), tetapi juga meliputi pengajaran tingkah laku (domain afektif). Sebaliknya Sayyid Quthub menafsirkan kata rabbayani sebagai pemeliharaan anak serta menumbuhkan kematangan sikap mentalnya. Sebagaimana juga dijelaskan oleh Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi:
Muhammad Mutawalli Sya’rawi menjelaskan bahwa tarbiyah itu dimulai bukan ketika anak dilahirkan ke dunia, akan tetapi jauh sebelum itu yakni sebelum pernikahan itu sendiri, dengan memilih ayah dan ibu yang soleh, kemudian dilanjutkan ketika dalam kandungan dan seterusnya ketika telah hadir di dunia. Sedangkan kata sebagaimana disini berfungsi sebagai tasybih (penyamaan) yang maksudnya disini adalah kasihanilah keduanya sebagaimana keduanya mengasihi saya ketika saya masih kecil. Atau berfungsi sebagai penyertaan ‘illat: kasihilah keduanya karena keduanya telah memelihara saya waktu kecil. . Terkadang anak dibesarkan oleh orang selain orang tuanya dikarenakan suatu kondisi.maka hukum ini berlaku seiring dengan ‘illat baik yang berkaitan dengan keberadaan atau ketiadaannya. Oleh karena itu, jika yang mendidikmu adalah orang selain kedua orang tua, maka dia behak mendapat apa yang menjadi hal orang tua, seperti berbakti, berbuat baik dan perlakuan yang baik pula serta mendoakannya. Ini adalah kabar gembira bagi orang yang memelihara selain anaknya, terlebih-lebih jika anak yang dipelihara itu adalah anak yatim atau sama hukumnya dengan yatim.158
Dari beberapa tafsir diatas dapat diambil garis besar maksud dari ayat tersebut, bahwa seorang anak harus merendah diri dan menghormati orang tua, mendoakanya dan juga membalas kebaikan orang tua yang telah mendidik, memelihara, mengasihi dan mengasuh dari kecil hingga mampu hidup sendiri.
Melihat ayat ini, Dalam pendidikan Islam, metode pendidikan yang paling baik diterapkan yaitu seperti pendidikan orang tua kepada anaknya. Yakni selain mengajarkan, mencontohkan dan mengawal, pendidik juga harus memiliki rasa kasih sayang kepada peserta didiknya.
Dengan demikian nilai tarbawi yang dapat diambil dari ayat diatas; pertama, bahwa proses tarbiyah itu bukan hanya pada saat kita duduk di bangku sekolah saja, melainkan pada saat kecil pun kita sudah dididik oleh orang tua kita dengan penuh kasih sayang hingga sampai kita beranjak dewasa. Peran orang tua akan sangat berpengaruh terhadap sifat dan karakter anak, maka orang tua (pendidik) tidak hanya berkewajiban mendidik, tapi juga memelihara, menjaga, membimbing dan mengawasi.
Kedua, adab pendidik terhadap peserta didik diantaranya; harus senantiasa penuh kasih sayang yang sempurna, telaten dan bertanggung jawab.
Ketiga, peserta didik seyogianya menyayangi orang tua atau pendidik, mendo’akan agar Allah memberikan rahmat yang kekal karena mereka telah mendidiknya sejak kecil tanpa batas, tidak menjelek-jelekan mereka berkata dengan sopan dan rendah hati dihadapan mereka.
Pengertian Tarbiyah Dalam Al Qur’an Tafsir Ayat Ke 16 Surat Al Syu’ara ( QS. Asy Syua’ra : 16 )
فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِين
Artinya: “Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah olehmu: “Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam”” ( QS. Asy Syuara: 16)
Menurut Al-Maragi (1974: 95-97), Maka datanglah dan berkatalah Musa dan Harun kepada Fir’aun: sesungguhnya Allah telah mengutus kami kepadamu agar kamu membebaskan dan memerdekakan Bani Israil – yang telah diperbudak selama 400 tahun – untuk pergi ke Tanah Suci, tanah tumpah darah nenek moyang yang dijanjikan Allah kepada kami melalui para Rasul-Nya.
Pada ayat ini juga terdapat lafadz رَبِّ الْعَالَمِينَ seperti pada surat Al-Fatihah ayat 2 yang telah dijelaskan didepan. Hal ini mentitik beratkan pemahaman dalam ayat ini pada tata cara yang diperintahkan Allah kepada Nabi Musa untuk mendatangi Firaun, yakni Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk mendatangi Firaun dengan tata cara yang lembut dan perlahan, meskipun Nabi Musa seorang Rasul yang mempunyai mukjizat dan Firaun sudah jelas kemungkaranya, tata cara yang dilakukan dengan bernegosiasi secara damai dan perlahan. Allah SWT. mengabarkan tentang perintah yang diberikan-Nya kepada seorang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Musa bin ‘Imraan as. ketika diseru dari sisi kanan gunung Thursina, diajak bicara dan berdialog, diutus dan dipilih-Nya serta diperintahkan-Nya untuk pergi kepada Fir’aun dan para pengikutnya. Untuk itu Allah SWT. berfirman dalam surat Asy-Syu’ara:10-14
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): "Datangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) kaum Fir'aun. mengapa mereka tidak bertakwa?" berkata Musa: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku Maka utuslah (Jibril) kepada Harun. dan aku berdosa terhadap mereka, Maka aku takut mereka akan membunuhku".
Sebagaimana firman Allah swt dalam surat thaha: 25- 28. Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.
Seperti firman-Nya dalam ayat yang lain: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Rabb-mu”. Yaitu, kami semua diutus kepadamu, “Lepaskanlah Bani Israil (pergi) beserta kami.” Yaitu, lepaskanlah mereka dari tawanan, genggaman, paksaan dan siksaanmu. Karena mereka adalah hamba-hamba Allah yang beriman dan tentara-tentara-Nya yang ikhlas, sedangkan mereka berada bersamamu dalam keadaan mengalami siksaan yang pedih. Ketika Musa berkata demikian kepadanya, Fir’aun menolak semua tuntutan itu dan memandangnya dengan pandangan menghina dan merendahkan. Maka dia berkata: “Bukankah kami telah mengasuhmu diantara (keluarga) kami waktu kamu masih kanak-kanak.” Yaitu, bukankah engkau telah kami asuh dilingkungan kami, di rumah kami dan di pembaringan kami. Kami telah memberikan kesenangan selama beberapa tahun, kemudian engkau membalas kebaikan itu dengan perilakumu membunuh seorang laki-laki diantara kami dan engkau berusaha mengingkari pemberian kami kepadamu. Untuk itu dia berkata: “Engkau termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna,” yaitu orang-orang pembangkang.
Al-Qurtubi mengatakan, kemudian mereka berangkat menuju Fir’aun, tetapi baru setahun kemudian mereka diberi izin untuk menghadap kepadanya.
Dengan menegur dan mengejek, Firaun berkata kepada Musa sambil mengingatkan dua perkara: “Fir’aun menjawab: "Bukankah Kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) Kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama Kami beberapa tahun dari umurmu.” (Asy-Syu’ara: 18)
Diriwayatkan bahwa Musa tinggal bersama Firaun selama 18 tahun. Dikatakan pula selama 30 tahun. Pertama-tama Fir’aun menyebut kebaikannya kepada Musa, yaitu memelihara dan membesarkannya hingga dewasa; kemudian mencelanya karena telah membunuh tukang rotinya yang termasuk orang-orang terdekat kepadanya. Dengan demikian, Musa telah mengingkari nikmat dan kebaikan yang diberikan oleh Fir’aun.
Musa tidak menjawab ejekan Fir’aun terhadapnya, karena hal itu sudah maklum dan tidak andil sedikitpun untuk mengarahkan risalah. Sebab apabila rasul memiliki hujjah yang nyata atas kerasulannya, maka dia akan maju menghadapi orang-orang yang dia di utus kepada mereka, baik mereka memberinya nikmat atau tidak. Oleh sebab itu Musa hanya menjawab perkara kedua (Asy-Syu’ara: 20) : Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu Termasuk orang-orang yang khilaf.
Musa berkata seraya menjawab Fir’aun : Aku lakukan perbuatan yang kamu sebutkan itu, yaitu membunuh orang Qibti, sedangkan ketika itu aku tidak menduga bahwa tinjuku akan merenggut nyawanya, tidak lain hanya untuk mendidiknya; tapi ternyata tinjuku telah mengakibatkan kematiannya. (Ibnu Katsir, 1986:342)
Hal itu ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan dipilih oleh Ibnu Jarir.
“Musa berkata: ‘Aku telah melakukannya,’’ yaitu, dalam hal itu, “sedang aku diwaktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.” Yaitu, sebelum aku mendapatkan wahyu dan sebelum Allah memberikan nikmat risalah dan kenabian untukku.
Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, adh-Dhahhak dan selain mereka berkata: “sedang aku diwaktu itu termasuk orang-orang yang khilaf,” yaitu, orang-orang yang jahil. Sedangkan Ibnu Juraij berkata: “seperti itulah qira’at ‘Abdullah bin Mas’ud ra. “Lalu aku lari meninggalkanmu ketika aku takut kepadamu,” dan ayat seterusnya. Yaitu, telah berlalu kisah terdahulu dan telah datang urusan lain, dimana Allah telah mengutusku kepadamu. Jika engkau mentaat, niscaya engkau akan selamat dan jika engkau melanggar, niscaya engkau akan celaka. Kemudian Musa berkata: “Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani israil.” Yaitu, kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku dan kebaikanmu yang telah mengasuhku adalah balasan keburukan yang telah engkau lakukan kepada Bani Israil, dimana engkau jadikan mereka sebagai budak dan pembantu yang dapat engkau gunakan dalam pekerjaanmu dan meringankan kesulitan rakyatmu. Apakah kebaikanmu kepada satu orang laki-laki dapat membalas sikap burukmu kepada semua orang?! Artinya, apa yang telah engkau sebutkan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah engkau lakukan terhadap mereka. (Ibnu Katsir 1986: 344-345)
Ayat ini berkolerasi dengan ayat sesudahnya yaitu ayat 18,
Fir'aun menjawab: "Bukankah Kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) Kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama Kami beberapa tahun dari umurmu.
Ayat tersebut menceritakan kisah Fir’aun dan Musa. Dalam ayat diatas kata nurabbika dan walîdan secara langsung menjelaskan tentang ihwal tarbiyat. Dalam menjelaskan kata nurabbika dan walîdan ini, para mufassir berbeda cara menjelaskannya, namun semuanya bisa diterima. (Rosyidin, 2003: 37)
Ash-Shâwi menjelaskan bahwa Fir’aun memberikan kesenangan dengan mengurus Musa sejak kecil dengan pendidikan. Hal ini diperkuat oleh Al-Jûzi, bahwa Fir’aun mengasuh Musa sejak kecil. (Rosyidin, 2003: 37). Adapun lamanya proses pendidikan yang dilakukan Fir’aun, para sahabat atau tabi’in berbeda pendapat, namun pada intinya sama yaitu sampai usia baligh. (Rosyidin, 2003: 37)
Al-Hijazi menjelaskan bahwa ayat diatas menjelaskan tentang jawaban Musa kepada Fir’aun, katanya: “Bagaimana mungkin engkau (Fir’aun) merasa mendidikku dirumahmu padahal engkau telah menyiksa Bani Israil dengan siksa yang pedih?”. Hal ini menunjukan bahwa Musa tidak berarti dididik oleh Fir’aun sekalipun Fir’aun mengakuinya. Dengan kata lain, bahwa hakikatnya Fir’aun mendidik dan membesarkan Musa itu dalam Fisiknya saja tidak mendidik mental dan hati nuraninya. (Rosyidin, 2003: 37)
Dari penjelasan para mufassir di atas dapat disimpulkan bahwa tarbiyah Fir’aun kepada Musa itu terjadi dalam pengurusan dan perkembangan fisiknya saja, tidak mendidik mental dan hati nuraninya, karena Fir’aun membesarkan Musa tidak dengan imannya. Dari ayat ini dapat diambil juga suatu konsep bahwa proses tarbiyat terjadi dan berlaku pada masa kanak-kanak dan juga terjadi pada masa dewasa. (Rosyidin, 2003: 38) Dapat disimpulkan bahwa nilai tarbawi dari ayat tersebut;
a. Bahwa tarbiyat atau pendidikan adalah: proses pengembangan jasad, ruh dan akal fikirannya. Dilakukan dengan cara yang lemah lembut, penuh dengan kasih sayang. Proses pendidikan berlangsung sejak kanak-kanak hingga beranjak dewasa atau baligh.
b. Peserta didik boleh saja menegur gurunya ketika melakukan kesalahan, tentunya dengan cara ma’ruf.
c. Guru harus menguatkan murid ketika menghadapi musibah dan memberikan solusi.
Dalam Alquran, kata tarbiyah sebagai sebuah definisi yang sudah mapan tidak dapat dijumpai, namun demikian kata tarbiyah dengan merujuk pada berbagai bentuk derivasinya dapat ditemukan dalam ayat-ayat yang tersebar dan terulang sebanyak 952 kali.
Lafadz tarbiyah biasa digunakan sebagai istilah pendidikkan dalam islam. Tarbiyah sendiri merupakan masdar berwazan تفعيل yaitu dari fiil madly mazid rabba-yurabbi-tarbiyan (ربي-يربي- تربي ) yang bermakna pendidikan, pengasuhan, dan pemeliharaan. Tarbiyah diambil dari fiil madly mujarod raba ربا yang bermakna tambah dan tumbuh.
Derivasi Tarbiyah dalam Al Qur’an terbagi menjadi tiga bentuk; pertama, bentuk isim fail ( rabbbani ). Bentuk ini terulang sebanyak 2 kali yang semuanya berbentuk jamak ( plural ) ( rabbaniyyyin \ ribbiyyun ). Sebagaimana terdapat dalam surah Al Imran ayat 79.
ما كان لبشر ان يوتيه الله الكتب واحكم والنبوة ثمةيقوول للناس كونوا عبادالي من دون الله وكن كونوا ربانين بما كنتم تعلمون اكتب وبماكنتم تدرسون
Artinya ; “ tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian,kemudian dia berkata kepada manusia, “ jadilah kamu penyambahku, bukan penyembah Allah,” tetapu ( dia berkata ),” jadilah kamu penyembah-penyembah Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!,” ( OS. Al Imran ; 79 )
Kata rabbani dalam ayat tersebut dinisbatkan kepada kata robba yang mendidik manusia dengan ilmu dan pengarahan pada masa kecil. Menurut Ibnu Abbas, kata robbayani berasal dari kata robba yang mendapatkan imbuhan alif dan nun yang menunjukkan ma’na balaghoh. Sebagian ulama berpendapat bahwa kata rabbanii mempunyai tokoh arti ilmuan ( arbabul ilmi ) yang mendidik dan memperbaiki kondisi sosialnya, dan ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut bermakna orang yang ahli dan mengamalkan sesuai yang ia ketahui, bahkan dengan demikian kata tersebut identik dengan al alim al hakim, yang mempunyai arti orang yang sempurna iman dan ketaqwaannya.
Kedua, bentuk masdar rabba yang terulang dalam Al Qur’an sebanyak 947 kali, empat kali berbentuk jama’ “Arbabun”, satu kali berbentuk tunggal, dan selebihnya diidiomatikkan dengan isim (kata benda) sebanyak 141 kali yang mayoritas dikontekskan dengan alam, selebihnya dikontekskan dengan masalah Nabi, manusia, sifat Allah, dan ka’bah. Salah satunya terdapat dalam surat Al Fatihah ayat 2:
الحمدالله رب العلمين
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam”. ( QS. Al Fatihah : 2 )
Surat Asy-Syu’ara Ayat 16
فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah olehmu: “Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam” (QS. Asy Syuara: 16 )
Ketiga, berbentuk kata kerja (fi’il) rabbi (ربا), yaitu terdapat dalam surat Al Isra ayat 24;
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”.
Tafsir Ayat-Ayat Tarbiyah
Pengertian Tarbiyah Dalam Al Qur’an Tafsir Ayat Ke 2 Surat Al Fatihah ( QS. Al Fatihah : 2 )
الحمدالله رب العلمين
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” ( QS. Al Fatihah : 2 )
Dalam surat Al Fatihah ayat 2 tersebut dapat kita jumpai bahwa Allah adalah Tuhan (rabb) yang selalu menjaga dan melindungi ciptaan-Nya, hal ini karena Allah adalah pemiliki sekaligus yang mengatur dan mengurus tata kehidupan di dunia dan seisinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rabb dalam konteks tarbiyah adalah sebagai pelaku perbaikan, sehingga tujuan dari pendidikan menurut surat Al Fatihah ayat 2 ini adalah membangun sifat ketuhanan dan mengelaborasinya dalam kehidupan orang yang sudah terdidik (mutarabbi).
Dalam konteks tauhid, ayat inilah yang dijadikan rujukan dalam pendefinisian tauhid rububiyah yang menyatakan bahwa hanya Allah yang dapat menjaga alam dan memelihara alam yang diciptakan untuk manusia sebagai lahan tarbiyah. Sedangkan dalam kontek penafsiran, terdapat perbedaan penafsiran meskipun tidak signifikan sebagaimana as-Sa’adi dalam tafsirnya mengatakan:
“ merupakan pujian terhadap Allah dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan perbuatanNya yang berkisar antara keutamaan dan keadilan. Maka bagi-Nyalah pujian yang sempurna dari berbagai aspek”.
Dari uraian as-Sa’adi ini dapat disimpulkan bahwa tarbiyah adalah upaya manusia untuk menciptakan sifat-sifat yang dimiliki Allah dalam tugasnya sebagai seorang yang berpendidikan, di antara sifat itu adalah tidak pilih kasih dan selalu adil. Dari ayat ini ada beberapa konsekuekensi penerapan terahadap ayat ini seperti bahwa seorang guru harus memiliki sifat adil dalam menjalankkan kewajibannya sebagai seorang guru semisal dalam memberikan nilai, ganjaran, hukuman dan lain sebagainya.
Hubungan tarbiyah dengan kata rabb sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. Al Fatihah : 2 (al’amdu lil Allahi rabb al-alamin) mempunyai kandungan makna yang erat. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi (pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah pendidik yang Maha Agung bagi seluruh alam semesta.
Secara filosofis ayat 2 dari surat Al Fatihah mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai “pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Dalam konteks yang luas, pengertian pendidikan Islam yang dikandung dalam term tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu: (1) memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh). (2) mengembangkan selutuh potensi menuju kesempurnaan. (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan. (4) melaksanakan pendidikan secara bertahap.
Imam Mustafa al-Maragi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Rabb adalah Tuan, pengurus yang menguasai orang yang diurusnya dan yang mengatur semua kebutuhannya, sebagaimana dalam tafsirnya:
(رب) هو السيد المربّى الذي يسوس من يربّيه ويدبّر شئونه.
Rabb adalah Tuan, pengurus yang menguasai orang yang diurusnya dan yang mengatur semua kebutuhannya.
Menurut Ibnu Ka’ir dalam menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
{ رَبِّ الْعَالَمِينَ } والرب هو: المالك المتصرف، ويطلق في اللغة على السيد، وعلى المتصرف للإصلاح، وكل ذلك صحيح في حق الله تعالى.[ولا يستعمل الرب لغير الله، بل بالإضافة تقول: رب الدار رب كذا، وأما الرب فلا يقال إلا لله عز وجل، وقد قيل: إنه الاسم الأعظم]. والعالمين: جمع عالم، [وهو كل موجود سوى الله عز وجل] ، والعالم جمع لا واحد له من لفظه، والعوالم أصناف المخلوقات [في السماوات والأرض] في البر والبحر، وكل قرن منها وجيل يسمى عالمًا أيضًا.(إبن كثير : ۱ : ۱٣۱)
Rabb: raja yang menguasai, secara bahasa lafa’rabb mengandung makna: tuan, seorang penguasa wajib mengishlahkan, dan semua makna tersebut adalah benar merupakan hak Allah swt. Lafa’ rabb tidak digunakan untuk selain Allah swt, kecuali jika dii’afatkan, seperti: rabb ad-dar,.
Sejalan dengan pendapat di atas, Al-Qasimi menuturkan:
((رَبِّ العَالَمينَ)) الرب يطلق على السيد المطاع و على المصلح وعلى المالك. – تقول : ربّه يَرُبٌّه فهو ربّ كما تقول: نمّ عليه ينمّ فهو نمّ- فهو صفة مشبهة, ويجوز أن يكون مصدراًبمعنى التربية وهى:تبليغ الشىء إلى كما له شيئاً فشيئاً. وصف به الفاعل مبالغة كما وصف بالعدل. والرب – باللام – لا يقال إلا لله عزّ وجلّ. وهو فى غيره على التقييد بالإضافة – كربّ الدار –. و (( العالمين )) جمع عالم وهو : الخلق كلّه وكل صنف منه. وإيثار صيغة الجمع لبيان شمول ربوبيته تعالى الجميع الأجناس. والتعربف لاستغراق أفراد كل منها بأسرها
رَبِّ العَالَمينَ , Rabb berarti tuan yang ditaati, yang membereskan dan raja. Berasal dari kata ربّ- يربّ- ربّ yang semakna dengan نمّ- ينمّ- نمّ (tumbuh), lafadz ini merupakan sifat Musabbahah, mashdarnya bisa juga semakna dengan lafadz التربية, yang berarti: menyampaikan sesuatu sampai sempurna sesuatu, pelaku penyampainya disifati dengan sifat seperti adil. Lafadz Ar-rabb hanya untuk Allah semata, adapun jika digunakan untuk makhluk maka harus memakai idafat seperti: rabb ad-daar. Al-‘aalamiin merupakan jama dari kata ‘aalam, yaitu semua makhluk dengan berbagai macamnya, fungsi dari bentuk jama (الْعَالَمِيْنَ) untuk menjelaskan cakupan ketuhanan Allah SWT. Terhadap berbagai jenis makhluk. Definisi lil-istigrak adalah menyatukan semua bagian dengan yang lainnya.
Dengan demikian istilah tarbiyah dengan melacak maknanya dari kata rabb, maka ditemukan berbagai konotasi makna yang diketengahkan oleh para pakar bahasa sebagai berikut:
Louis Ma’luf, mengartikan rabb dengan tuan, pemilik, memperbaiki, perawatan, tambah, mengumpulkan, dan memperindah.
Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-An’bari al-Qurthubi memberikan arti rabb dengan pemilik, tuan, Yang Maha Memperbaiki, Yang Maha Pengatur, Yang Maha Menambah, dan Yang Maha Menunaikan.
Imam Fakhruddin ar-Razi berpendapat bahwa rabb merupakan kata yang seakar dengan tarbiyah yang mempunyai makna at-tanmiyah (pertumbuhan dan perkembangan).
Al-Attas memberikan makna tarbiyah, rabban dan rabba, adalah: Memberi makan, memelihara, dan mengasuh.
Menurut Al-Maragi tarbiyah Allah terhadap manusia terdapat dua jenis; (1) tarbiyah khalqiyyah, yang berupa pertumbuhan anggota badan, hingga mencapai kematangan, juga berupa bertambah kuat psikis dan akal. (2) tarbiyah diniyyah tahzibiyyah, berupa sesuatu yang diilhamkan kepada beberapa individu, untuk menyampaikan kepada setiap manusia sesuatu yang dapat menyempurnakan akal pikiran dan membersihkan diri-diri mereka. Manusia tidak bisa mensyariatkan suatu beribadah, tidak pula menghalalkan sesuatu dan mengharamkan yang lainnya kecuali atas izin Allah swt.
Sependapat dengan ungkapan Al-Maragi di atas, dengan istilah lain AsSa’adi membagi tarbiyah Allah kepada makhlukNya menjadi dua macam yaitu tarbiyah ‘amah/umum dan tarbiyah kha’’ah/khusus. Tarbiyah umum yakni berupa penciptaan makhluk, memberi rizki, memberi hidayah untuk kemaslahatan mereka, yang hidayah itu di dalamnya terdapat kekekalan di dunia.
Sedangkan tarbiyah khusus adalah tarbiyah Allah yang diberikan kepada para pemimpin mereka dengan cara memelihara keimanan mereka, memberi petunjuk kepada mereka, menyempurnakan mereka dengan segala sifat dan sikap yang baik serta menjaga mereka dari perbuatan-perbuatan yang kurang baik yang pada hakikatnya memberikan keberhasilan dan menjaga dari setiap kejahatan. Inilah makna rahasia dibalik banyaknya seruan para nabi dengan menggunakan lafadz rabb, karena sungguh setiap permintaan mereka berada di bawah pemeliharaan Allah.136
Menurut Al-Hijazi (Rosyidin, 2003: 23) rabb adalah raja dan tuan, pada kata tersebut mengandung makna ketuhanan, pendidikan, dan bimbingan atau bantuan. Kata al-‘âlamîn jamak dari ‘alam, artinya alam itu banyak macamnya, selain alam Allah, ada juga alam manusia, binatang dan tumbuhan.
Kata rabb dalam surat al-Fatihah ayat 2 semakna juga dengan kata rabb dalam surat ash-Shâffat: 180
“Mahasuci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan”.
Menurut Al-Hijazi, kata rabb mengandung makna bahwa rububiyyah Allah mengarahkan pendidikan supaya bersifat sejuk, penuh kasih sayang, perhatian, inspiratif dan menyenangkan atau tidak membosankan. (Rosyidin, 2003: 24)
Al-Maraghi menjelaskan bahwa konsep pendidikan yang terkandung dalam kata rabb pada dua ayat tersebut adalah bahwa cakupan pendidikan itu meliputi fisik, perasaan, akal (intelektual), bakat (potensi) dan jiwa, sehingga mencapai kesempurnaan kemanusiaannya menurut pandangan Allah SWT. kemudian dia menjelaskan bahwa tujuan pendidikan itu adalah untuk memberikan kesenangan dan kemuliaan antara guru dan murid tanpa ada batas. (Rosyidin, 2003:25)
Sedangkan Ar-Raghib (Zakaria, 2008: 110) mendefinisikan rabb sebagai berikut;
إنشاء الشيئ حالا فحالا إلى حدّ التّمام
Menjadikan sesuatu setahap demi setahap, sampai batas yang sempurna.
Pengertian di atas merupakan interpretasi dari kata ar-rabb dalam surah Al Fatihah, yang merupakan nama dari nama-nama Allah swt.
Dengan demikian dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, nilai tarbawi yang terkandung dalam ayat ini, yaitu:
a. Allah SWT. Dialah maha guru, yang pertamakali mengajarkan ilmu pada manusia pertama, yaitu Adam as., maka segala ungkapan puji dan syukur hanya untuk Allah yang maha suci, atas segala sifat-sifat-Nya yang agung.
b. Seorang pelajar, murid ataupun peserta didik harus berterimakasih kepada guru atas budi baiknya mendidik kita. Mendidik disini dalam artian tarbiyah, bukan sekedar mendidik tapi juga membimbing, mengawasi, menjaga dan mengajarkan.
c. Proses tarbiyah bukan hanya sekedar mengajarkan saja, tapi juga membimbing, menuntun dan mendidik sampai peserta didik memahami dan mempraktekan ilmunya.
Pengertian Tarbiyah Dalam Al Qur’an Tafsir Ayat Ke 24 Surat Al Isra ( QS. Al Isra : 24 )
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّي ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya: “ dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Wahbah Al-Zuhaili mengomentari lafadz وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ bahwa lafadz tersebut merupakan Isti’arah Makaniyah, yakni menyerupakan الذُّلِّ(rendah) dengan طائر(burung), kemudian lafadz طائر tidak dicantumkan, digantikan dengan hal yang khusus dimiliki طائر yaitu جَنَاحَ. Maksudnya yaitu rasa kasih sayang dan merendah diri (tawadu’) dihadapan kedua orang tua seperti merendahnya rakyat kepada pemimpin atau pelayan kepada majikanya. وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا maksudnya berdoa mintalah kasih sayang dari Allah untuk kedua orang tua saat mereka sudah tua ataupun sudah meninggal. Imam Qofal berkata “ayat ini bukan hanya mengajarkan untuk berbakti dalam perkataan saja akan tetapi mengajarkan untuk berbakti dalam hal tindakan”, makna rahmat dalam ayat ini mencangkup semua kebaikan dalam dunia dan akhirat, كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا maksudnya berbuatlah baik kepada mereka seperti mereka berbuat baik kepada kita dalam mendidik kita. Mendidik disini diartikan pertumbuhan, lafadz ini dituturkan secara khusus untuk mengingatkan kasih sayang orang tua, jerih payah orang tua dalam mendidik. Agar anak mampu menambah kasih sayang dan kelembutan kepada kedua orang tua.
Sedangkan Nashirudin menafsiri ayat كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا dengan makna kasihilah mereka seperti mereka mengasihiku, pendidikan yang mereka berikan dan pengasuhan mereka.
Al-Thobari menafsiri ayat ini dengan makna merendahlah kalian kepada orang tua, jangan menyusahkan dan doakanlah mereka kepada Allah untuk memberi kasih sayang, dan memberi kebaikan kepada mereka dengan ampunan dan kasih sayang, seperti kebaikan dan kasih sayang mereka kepada kita ketika masih kecil, hingga kini kita bias hidup sendiri dan tidak membutuhkan mereka. Ayat ini menuntun agar anak mendoakan orang tuanya. Doa kepada ibu bapak dalam ayat ini menggunakan kalimat كَماَ رَبـَّياَنِى صَغِيْراً yang dipahami oleh sebagian ulama dalam arti disebabkan mereka telah mendidikku waktu kecil, bukan sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil. Bila kalimat itu diartikan dengan sebagaimana, maka rahmat Allah yang dimohonkan mempunyai kualitas dan kuantitas yang sama dengan apa yang telah diberikan orang tua kepada sang anak. Namun, apabila ia diartikan disebabkan, maka limpahan rahmat yang dimohonkan itu diserahkan sepenuhnya kepada kemurahan Allah swt. dan ini dapat jauh lebih melimpah dibanding apa yang telah mereka limpahkan kepada anak. Karenanya, sangat wajar dan terpuji jika seorang anak berdoa agar keduanya mendapatkan yang lebih banyak dibanding yang telah ia peroleh sewaktu kecil. Hal ini tentu berdasar terhadap perintah ihsan yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya.
Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi (1418 H, 8463: 14) menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
{وَاخْفِضْ} : الْخَفْضُ ضِدُّ الرَّفْعِ.
{وَاخْفِضْ} al-khafdlu (merendahkan) merupakan kebalikan dari ar-raf’u (meninggikan)
{جَنَاحَ الذُّلِ} : الطَّائِرُ مَعْرُوْفٌ أَنَّهُ يَرْفَعُ جَنَاحَهُ وَيُرَفْرِفُ بِهِ، إِنْ أَرَادَ أَنْ يُطِيْرَ، وَيَخْفَضُهُ إِنْ أَرَادَ أَنْ يَحْنُوَ عَلَى صِغَارِهِ، وَيَحْتَضِنُهُمْ وَيُغْذِيْهِمْ.
{جَنَاحَ الذُّلِ}: diketahui bahwa seekor burung akan mengangkat sayap dan mengepak-ngepakannya ketika hendak terbang, dan merendahkannya ketika hendak mengasihi anak burung, lalu mendekap dan melindunginya.
وَهٰذِهِ صُوْرَةٌ مُحَسَّةٌ لَنَا، يَدْعُوْنَا الْحَقَّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالٰى أَنْ نَقْتَدِيْ بِهَا، وَأَنْ نُعَامِلَ الْوَالِدَيْنِ هٰذِهِ الْمُعَامَلَةِ، فَنَحْنُوْ عَلَيْهِمْ، وِنَخْفَضُ لَهُمُ الْجَنَاحَ، كِنَايَةً عَنِ الطَّاعَةِ وَالْحَنَانِ وَالتَّوَاضَعِ لَهُمَا، وَإِيَّاكَ أَنْ تَكُوْنَ كَالطَّائِرِ الَّذِيْ يَرْفَعُ جَنَاحِيْهِ لِيَطِيْرَ بِهِمَا مُتَعَالِياً عَلَى غَيْرِهِ.
Ini merupakan gambaran kasih sayang bagi kita, Allah SWT. Menyeru kita melakukan kebenaran yaitu: mengikuti gambaran tersebut, melakukan hal tersebut terhadap kedua orang tua, menyayangi mereka dan merendahkan diri dengan penuh kasih sayang. Sebagai bentuk kiasan dari ketaatan, rasa sayang dan tawadu’ terhadap mereka berdua. Hendaklah kamu menjadi seperti seekor burung yang mengepakkan sayapnya untuk terbang tinggi bersama mereka
Sementara itu, Al-Qasimi dalam menafsirkan ayat di atas menyebutkan sebagai berikut:
معنى قوله تعالى و (واخفض لهما جناح الذلّ) تَذَلَّلْ لهما و تواضع. و فيه استعارة مكنية و تحييلية.
Makna firman Allah swt: واخفض لهما جناح الذلّ (dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang), yakni merendahkan diri dan tawadlu terhadap keduanya, dalam ayat ini terdapat istiarah makniyyah dan tahliliyyah.
Kata الذلّ menyerupai bagian-bagiannya dengan penyerupaan yang samar, maka tetaplah dosa yang terbayang-bayang, dan merendahkan secara terdidik. خفضه sesuatu yang dikerjakan ketika menghimpun anak burung untuk dipelihara, lafadz ini merupakan isti’arah tashrihiyyah.
(و قل ربّ ارحمهما كما ربّيانى صغيرا) أى رب! تعطف عليهما برحمتك و مغفرتك, كما تعطفا علىّ فى صغرى, فرحمان و ربيانى صغيرا حتى استقلت بنفسى, واستغنيت عنهما. و قل ربّ ارحمهما كما ربّيانى صغيرا
yakni ya rabb, kasihanilah mereka berdua dengan rahmat dan magfirahmu. Sebagaimana mereka mengasihaniku ketika kecil. Mereka menyayangi dan mengurus aku ketika kecil, sampai aku mandiri dan berkecukupan karena mereka
Ibnu Katsir (1986, 3: 37-38) menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut,
{وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ} أَيْ: تَوَاضَعَ لَهُمَا بِفِعْلِكَ {وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا}
أَيْ: فِي كبرهما وعند وفاتهما {كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا} وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَة
(dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan), Maksudnya bertawadhulah kamu kepada keduanya melalui tindakanmu. (dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".) Yakni, pada usia tuanya dan pada saat wafatnya. (sebagaimana mereka mengurusku ketika kecil).
As-Suyuti dan Al-Mahalli menafsirkan ayat ini sebagai berikut: (Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua) artinya berlaku sopanlah kamu terhadap keduanya (dengan penuh kesayangan) dengan sikap lemah lembutmu kepada keduanya (dan ucapkanlah, "Wahai Rabbku! Kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana) keduanya mengasihaniku sewaktu (mereka berdua mendidik aku waktu kecil). (Hidayat, 2010: 568)
Ayat ini mengandung perintah untuk bersikap rendah hati dan sopan terhadap kedua orang tua. Hal itu dapat dilihat ketika Allah swt melanjutkan ayat tersebut dengan melarang seorang anak untuk berkata “ah” kepada orang tuanya yang nabi Muhammad mengatakan itu adalah salah satu doa terbesar. Adapun perintah untuk senantiasa mendo’akan mereka kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun keadaannya merupakan bentuk balasan sebagai rasa terima kasih anak karena telah dididik, dipelihara, dibimbing sejak dari kecil hingga mencapai usia baligh dan mandiri.
Sedangkan Al-Khawarijmi menjelaskan bahwa anak harus mengasihi kepada orang tuanya dan berdo’a agar Allah memberikan rahmat yang kekal karena mereka telah mendidiknya sejak kecil tanpa batas. (Rosyidin, 2003:35)
Dalam konteks demikian, perbuatan inilah yang disebut dengan birr al walidaini (berbuat baik kepada kedua orangtua). Ayat di atas juga diperkuat dengan banyak matan hadis yang membahas hal ini. Diantaranya hadis yang diriwayatkan melaui jalur Anas dan juga yang lainnya, bahwasanya Rasullullah saw. pernah menaiki mimbar kemudian berucap:
(امين امين امين) قيل : يا رسول الله علام امنت؟ قال : ((أتلني جبريل فقال : يا محمد رغم أنف رجلذكرت عنده فلم يصل عليك , قل : امين, فقلت: أمين, ثم قال رغم أنف رجل دخل عليه شهر رمضان ثم خرج فلم يغفر له, قلْ: أمين, فقلت امين , ثم قال: رغم انف رجل أدرك والديه او احدهما فلم يدخلاه الجنة, قلْ: امين, فقلت: أمين))
“Amin. Amin. Amin”. Lalu ditanyakan: ‘Ya Rasulullah , apa yang engkau amin-kan tadi? Beliau menjawab: ‘aku telah didatangi Jibril, lalu ia berkata: ‘sungguh hina orang yang (namamu disebut di sisisnya), namun ia tidak bershalawat kepadamu. Maka ucapkanlah amin.’ Maka aku mengucapkan amin. Kemudian ia berkata lagi: sungguh hina orang yang masuk bulan Ramadhan, lalu ia keluar darinya dengan tidak mendapat ampunan. Maka ucapkanlah amin.’ Maka kuucapkan amin. Selanjutnya Jibril berkata: ‘Sungguh hina orang yang mendapatkan kedua atau salah satu orang tuanya (masih hidup), namun kesempatan bakti kepada keduanya tidak memasukkannya ke surga. Maka ucapkanlah amin.” (Ibnu Katsir, 1986: 3:37-38
Menurut Ath Tabari, kata rabbayânî memiliki makna yang sama dengan kata nammayânî artinya menumbuhkembangkan. Dengan kata lain setiap orang tua senantiasa mentarbiyah anaknya dengan bentuk mendidik kasih sayang dengan memberikan air susu di waktu kecil serta menumbuhkembangkan fisik, mental serta potensi anak dengan penuh kasih sayang hingga anak mencapai usia dewasa hingga bisa mandiri dan mencukupi. Ayat tersebut juga berarti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, mempertumbuhkan, memproduksi, dan menjinakkan.
Menurut Musthafa Al-Ghalayani, At-Tarbiyah adalah penanaman etika yang mulia pada anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasihat, sehingga ia memiliki potensi dan kompetensi jiwa yang mantap, yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak, baik cinta akan kreasi, dan berguna bagi tanah airnya
Sementara, Al-Maraghi menjelaskan bahwa rabbayânî berarti, bahwa dalam mendidik anaknya, orang tua harus senantiasa penuh kasih sayang yang sempurna, telaten dan bertanggung jawab. Hal ini diperkuat oleh Al-Hijazi, bahwa kedua orangtua itu telah mendidik anak diwaktu kecil. (Rosyidin, 2003:36)
Dilihat dari konteksnya, dalam kata rabbayânî terdapat objek “nî” (aku) dan dihubungkan dengan kata shagîrâ (waktu kecil), dengan demikian tarbiyat ditekankan pada pengembangkan indiviidu sejak masa kecil.(Rosyidin, 2003:36)
Fakhruddin ar-Razi berpendapat bahwa term rabbayani tidak hanya merupakan pengajaran yang bersifat verbal (domain kognitif), tetapi juga meliputi pengajaran tingkah laku (domain afektif). Sebaliknya Sayyid Quthub menafsirkan kata rabbayani sebagai pemeliharaan anak serta menumbuhkan kematangan sikap mentalnya. Sebagaimana juga dijelaskan oleh Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi:
Muhammad Mutawalli Sya’rawi menjelaskan bahwa tarbiyah itu dimulai bukan ketika anak dilahirkan ke dunia, akan tetapi jauh sebelum itu yakni sebelum pernikahan itu sendiri, dengan memilih ayah dan ibu yang soleh, kemudian dilanjutkan ketika dalam kandungan dan seterusnya ketika telah hadir di dunia. Sedangkan kata sebagaimana disini berfungsi sebagai tasybih (penyamaan) yang maksudnya disini adalah kasihanilah keduanya sebagaimana keduanya mengasihi saya ketika saya masih kecil. Atau berfungsi sebagai penyertaan ‘illat: kasihilah keduanya karena keduanya telah memelihara saya waktu kecil. . Terkadang anak dibesarkan oleh orang selain orang tuanya dikarenakan suatu kondisi.maka hukum ini berlaku seiring dengan ‘illat baik yang berkaitan dengan keberadaan atau ketiadaannya. Oleh karena itu, jika yang mendidikmu adalah orang selain kedua orang tua, maka dia behak mendapat apa yang menjadi hal orang tua, seperti berbakti, berbuat baik dan perlakuan yang baik pula serta mendoakannya. Ini adalah kabar gembira bagi orang yang memelihara selain anaknya, terlebih-lebih jika anak yang dipelihara itu adalah anak yatim atau sama hukumnya dengan yatim.158
Dari beberapa tafsir diatas dapat diambil garis besar maksud dari ayat tersebut, bahwa seorang anak harus merendah diri dan menghormati orang tua, mendoakanya dan juga membalas kebaikan orang tua yang telah mendidik, memelihara, mengasihi dan mengasuh dari kecil hingga mampu hidup sendiri.
Melihat ayat ini, Dalam pendidikan Islam, metode pendidikan yang paling baik diterapkan yaitu seperti pendidikan orang tua kepada anaknya. Yakni selain mengajarkan, mencontohkan dan mengawal, pendidik juga harus memiliki rasa kasih sayang kepada peserta didiknya.
Dengan demikian nilai tarbawi yang dapat diambil dari ayat diatas; pertama, bahwa proses tarbiyah itu bukan hanya pada saat kita duduk di bangku sekolah saja, melainkan pada saat kecil pun kita sudah dididik oleh orang tua kita dengan penuh kasih sayang hingga sampai kita beranjak dewasa. Peran orang tua akan sangat berpengaruh terhadap sifat dan karakter anak, maka orang tua (pendidik) tidak hanya berkewajiban mendidik, tapi juga memelihara, menjaga, membimbing dan mengawasi.
Kedua, adab pendidik terhadap peserta didik diantaranya; harus senantiasa penuh kasih sayang yang sempurna, telaten dan bertanggung jawab.
Ketiga, peserta didik seyogianya menyayangi orang tua atau pendidik, mendo’akan agar Allah memberikan rahmat yang kekal karena mereka telah mendidiknya sejak kecil tanpa batas, tidak menjelek-jelekan mereka berkata dengan sopan dan rendah hati dihadapan mereka.
Pengertian Tarbiyah Dalam Al Qur’an Tafsir Ayat Ke 16 Surat Al Syu’ara ( QS. Asy Syua’ra : 16 )
فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِين
Artinya: “Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah olehmu: “Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam”” ( QS. Asy Syuara: 16)
Menurut Al-Maragi (1974: 95-97), Maka datanglah dan berkatalah Musa dan Harun kepada Fir’aun: sesungguhnya Allah telah mengutus kami kepadamu agar kamu membebaskan dan memerdekakan Bani Israil – yang telah diperbudak selama 400 tahun – untuk pergi ke Tanah Suci, tanah tumpah darah nenek moyang yang dijanjikan Allah kepada kami melalui para Rasul-Nya.
Pada ayat ini juga terdapat lafadz رَبِّ الْعَالَمِينَ seperti pada surat Al-Fatihah ayat 2 yang telah dijelaskan didepan. Hal ini mentitik beratkan pemahaman dalam ayat ini pada tata cara yang diperintahkan Allah kepada Nabi Musa untuk mendatangi Firaun, yakni Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk mendatangi Firaun dengan tata cara yang lembut dan perlahan, meskipun Nabi Musa seorang Rasul yang mempunyai mukjizat dan Firaun sudah jelas kemungkaranya, tata cara yang dilakukan dengan bernegosiasi secara damai dan perlahan. Allah SWT. mengabarkan tentang perintah yang diberikan-Nya kepada seorang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Musa bin ‘Imraan as. ketika diseru dari sisi kanan gunung Thursina, diajak bicara dan berdialog, diutus dan dipilih-Nya serta diperintahkan-Nya untuk pergi kepada Fir’aun dan para pengikutnya. Untuk itu Allah SWT. berfirman dalam surat Asy-Syu’ara:10-14
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): "Datangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) kaum Fir'aun. mengapa mereka tidak bertakwa?" berkata Musa: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku Maka utuslah (Jibril) kepada Harun. dan aku berdosa terhadap mereka, Maka aku takut mereka akan membunuhku".
Sebagaimana firman Allah swt dalam surat thaha: 25- 28. Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.
Seperti firman-Nya dalam ayat yang lain: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Rabb-mu”. Yaitu, kami semua diutus kepadamu, “Lepaskanlah Bani Israil (pergi) beserta kami.” Yaitu, lepaskanlah mereka dari tawanan, genggaman, paksaan dan siksaanmu. Karena mereka adalah hamba-hamba Allah yang beriman dan tentara-tentara-Nya yang ikhlas, sedangkan mereka berada bersamamu dalam keadaan mengalami siksaan yang pedih. Ketika Musa berkata demikian kepadanya, Fir’aun menolak semua tuntutan itu dan memandangnya dengan pandangan menghina dan merendahkan. Maka dia berkata: “Bukankah kami telah mengasuhmu diantara (keluarga) kami waktu kamu masih kanak-kanak.” Yaitu, bukankah engkau telah kami asuh dilingkungan kami, di rumah kami dan di pembaringan kami. Kami telah memberikan kesenangan selama beberapa tahun, kemudian engkau membalas kebaikan itu dengan perilakumu membunuh seorang laki-laki diantara kami dan engkau berusaha mengingkari pemberian kami kepadamu. Untuk itu dia berkata: “Engkau termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna,” yaitu orang-orang pembangkang.
Al-Qurtubi mengatakan, kemudian mereka berangkat menuju Fir’aun, tetapi baru setahun kemudian mereka diberi izin untuk menghadap kepadanya.
Dengan menegur dan mengejek, Firaun berkata kepada Musa sambil mengingatkan dua perkara: “Fir’aun menjawab: "Bukankah Kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) Kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama Kami beberapa tahun dari umurmu.” (Asy-Syu’ara: 18)
Diriwayatkan bahwa Musa tinggal bersama Firaun selama 18 tahun. Dikatakan pula selama 30 tahun. Pertama-tama Fir’aun menyebut kebaikannya kepada Musa, yaitu memelihara dan membesarkannya hingga dewasa; kemudian mencelanya karena telah membunuh tukang rotinya yang termasuk orang-orang terdekat kepadanya. Dengan demikian, Musa telah mengingkari nikmat dan kebaikan yang diberikan oleh Fir’aun.
Musa tidak menjawab ejekan Fir’aun terhadapnya, karena hal itu sudah maklum dan tidak andil sedikitpun untuk mengarahkan risalah. Sebab apabila rasul memiliki hujjah yang nyata atas kerasulannya, maka dia akan maju menghadapi orang-orang yang dia di utus kepada mereka, baik mereka memberinya nikmat atau tidak. Oleh sebab itu Musa hanya menjawab perkara kedua (Asy-Syu’ara: 20) : Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu Termasuk orang-orang yang khilaf.
Musa berkata seraya menjawab Fir’aun : Aku lakukan perbuatan yang kamu sebutkan itu, yaitu membunuh orang Qibti, sedangkan ketika itu aku tidak menduga bahwa tinjuku akan merenggut nyawanya, tidak lain hanya untuk mendidiknya; tapi ternyata tinjuku telah mengakibatkan kematiannya. (Ibnu Katsir, 1986:342)
Hal itu ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan dipilih oleh Ibnu Jarir.
“Musa berkata: ‘Aku telah melakukannya,’’ yaitu, dalam hal itu, “sedang aku diwaktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.” Yaitu, sebelum aku mendapatkan wahyu dan sebelum Allah memberikan nikmat risalah dan kenabian untukku.
Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, adh-Dhahhak dan selain mereka berkata: “sedang aku diwaktu itu termasuk orang-orang yang khilaf,” yaitu, orang-orang yang jahil. Sedangkan Ibnu Juraij berkata: “seperti itulah qira’at ‘Abdullah bin Mas’ud ra. “Lalu aku lari meninggalkanmu ketika aku takut kepadamu,” dan ayat seterusnya. Yaitu, telah berlalu kisah terdahulu dan telah datang urusan lain, dimana Allah telah mengutusku kepadamu. Jika engkau mentaat, niscaya engkau akan selamat dan jika engkau melanggar, niscaya engkau akan celaka. Kemudian Musa berkata: “Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani israil.” Yaitu, kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku dan kebaikanmu yang telah mengasuhku adalah balasan keburukan yang telah engkau lakukan kepada Bani Israil, dimana engkau jadikan mereka sebagai budak dan pembantu yang dapat engkau gunakan dalam pekerjaanmu dan meringankan kesulitan rakyatmu. Apakah kebaikanmu kepada satu orang laki-laki dapat membalas sikap burukmu kepada semua orang?! Artinya, apa yang telah engkau sebutkan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah engkau lakukan terhadap mereka. (Ibnu Katsir 1986: 344-345)
Ayat ini berkolerasi dengan ayat sesudahnya yaitu ayat 18,
Fir'aun menjawab: "Bukankah Kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) Kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama Kami beberapa tahun dari umurmu.
Ayat tersebut menceritakan kisah Fir’aun dan Musa. Dalam ayat diatas kata nurabbika dan walîdan secara langsung menjelaskan tentang ihwal tarbiyat. Dalam menjelaskan kata nurabbika dan walîdan ini, para mufassir berbeda cara menjelaskannya, namun semuanya bisa diterima. (Rosyidin, 2003: 37)
Ash-Shâwi menjelaskan bahwa Fir’aun memberikan kesenangan dengan mengurus Musa sejak kecil dengan pendidikan. Hal ini diperkuat oleh Al-Jûzi, bahwa Fir’aun mengasuh Musa sejak kecil. (Rosyidin, 2003: 37). Adapun lamanya proses pendidikan yang dilakukan Fir’aun, para sahabat atau tabi’in berbeda pendapat, namun pada intinya sama yaitu sampai usia baligh. (Rosyidin, 2003: 37)
Al-Hijazi menjelaskan bahwa ayat diatas menjelaskan tentang jawaban Musa kepada Fir’aun, katanya: “Bagaimana mungkin engkau (Fir’aun) merasa mendidikku dirumahmu padahal engkau telah menyiksa Bani Israil dengan siksa yang pedih?”. Hal ini menunjukan bahwa Musa tidak berarti dididik oleh Fir’aun sekalipun Fir’aun mengakuinya. Dengan kata lain, bahwa hakikatnya Fir’aun mendidik dan membesarkan Musa itu dalam Fisiknya saja tidak mendidik mental dan hati nuraninya. (Rosyidin, 2003: 37)
Dari penjelasan para mufassir di atas dapat disimpulkan bahwa tarbiyah Fir’aun kepada Musa itu terjadi dalam pengurusan dan perkembangan fisiknya saja, tidak mendidik mental dan hati nuraninya, karena Fir’aun membesarkan Musa tidak dengan imannya. Dari ayat ini dapat diambil juga suatu konsep bahwa proses tarbiyat terjadi dan berlaku pada masa kanak-kanak dan juga terjadi pada masa dewasa. (Rosyidin, 2003: 38) Dapat disimpulkan bahwa nilai tarbawi dari ayat tersebut;
a. Bahwa tarbiyat atau pendidikan adalah: proses pengembangan jasad, ruh dan akal fikirannya. Dilakukan dengan cara yang lemah lembut, penuh dengan kasih sayang. Proses pendidikan berlangsung sejak kanak-kanak hingga beranjak dewasa atau baligh.
b. Peserta didik boleh saja menegur gurunya ketika melakukan kesalahan, tentunya dengan cara ma’ruf.
c. Guru harus menguatkan murid ketika menghadapi musibah dan memberikan solusi.
Komentar
Posting Komentar